Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa,
pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu yg membuat
cerita itu semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulissastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis [1].
Dear, Mas
Karang . . . You are perfect male figure that i created in my short
story Why did you come in my dream last nigth? We met like
when Lihawa met with Karang, after that you show a sense of
disappointment when i was not a figure like Lihawa Mas Karang,
forgive me . . . I want to see and meet with you again as a figure in
real life are you actually exist in real life , but who are you,
Mas Karang?
Langit! Masih setiakah kau disana dengan biru dan hitamnya rasa Angin! Masih sediakah kau menjadi penyampai rasa Bulan! Masihkah sinarmu ada Dan jangan biarkan rasa ini redup menutupi kerinduan Semoga hujan tak hadir diantara kita yang membuat kerinduan menjadi badai Badai! Jangan biarkan rasa ini menghentak mengotori setiap kesucian yang tersirat Jika kerinduan adalah badai Bolehkah Kumerindu?
Malam itu suasana sangat ramai, semua orang terlihat begitu bahagia, akupun turut merasakannya. Merasakan begitu banyak rasa. Bahagia melihat akhirnya sahabat terbaikku menjadi perempuan yang sempurna. Sebelum nantinya insya Allah menjadi wanita yang sempurna. Aamiin. Terus kulantunkan doa sambil tersenyum menatapnya dari kejauhan. Haru kurasakan ketika menyaksikan bagaimana perjalanan hidupnya yang penuh dengan lika dan liku. Dari perempuan biasa yang tak mengerti apa-apa tentang kehidupan duniawi hingga menjadi perempuan 'nakal', sudut bibir kuangkat kala mengingatnya. Saat ini, luar biasa, subhanallah Allah telah memberikannya hidayah melalui laki-laki yang berada di sampingnya. Telah memberikan Ahyanti kehidupan yang baru, aku biasa memanggilnya Aya, dia teman, sahabat, saudara bahkan adik terbaik yang pernah aku milliki. Kami bersama sejak masih memperebutkan boneka barbie yang membuat kepala dan badannya terpisah, saling mencibir tentang nilai yang kami dapatkan di sekolah, hingga saat ini kusaksikan pula kehidupan barunya. Ternyata rasa ego juga membuatku harus bersedih malam ini. kuulas senyumku. Hari ini terakhir aku menjadi kakakmu yang penuh dengan aturan-aturan yang harus dipatuhi, yang penuh omelan saat kamu mencoba melakukan sesuatu yang tak pantas, menjadi saksi kesakitan saat semua kekasihmu ternyata tidak ada satupun yang setia. Cukup wajar untuk perempuan sepertimu, yang melewati masa remajanya dengan memiliki pacar lebih dari dua bahkan lima. 'Lihat nanti karma masih berlaku, Ya' selalu aku lemparkan kata-kata itu untuk membuatmu jera. Tapi ternyata adikku memang terlalu keras kepala dan masih belum bisa dewasa. Aku hanya memeluk dan mengusap punggungmu ketika perkataanku menjadi kenyataan yang membuatmu menangis semalamam. Sungguh aku selalu tersenyum geli mengingat semua tingkah lakumu itu. Ah sudahlah! Perasaan ini hanya akan merusak kebahagiaan semua orang.
“Li.. ngapain lu disitu, sini!” Perempuan dengan gaun yang menjuntai penuh keanggunan itu melambaikan tangannya kepadaku. Aku menghampirinya.
“Dari tadi gue cariin ternyata disana” peluk manjanya memang tak pernah berubah.
“Gue cari makanan”
“Ngapain cari makanan, Li. Mendingan cari calon suami.” Aya tergelak