Malam mengelam. Mendekap Batu Merah dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa sunyi. Mengencerkan cecerandarah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi arang.
Kupandangi nona di hadapanku sekali lagi. Wajah hitam manisnya menyembul dari balik jendela kayu yang terbuka. Ia tampak lusuh. Jilbabnya kumal berdebu, compang-camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah keras itu tak juga berubah. Beku. Kaku. Sebilah tombak ada dalam genggamannya. Senjata itu dijulurkannya keluar jendela, lalu berkali-kali dihunjamkannya ke tanah.
"Cinta, menangislah," kataku dengan suara risau mendesau.
Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami.
Lama sekali."Beta seng bisa manangis,"suaranya bergetar, rahangnya mengeras.
Kupandangi nona di hadapanku sekali lagi. Wajah hitam manisnya menyembul dari balik jendela kayu yang terbuka. Ia tampak lusuh. Jilbabnya kumal berdebu, compang-camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah keras itu tak juga berubah. Beku. Kaku. Sebilah tombak ada dalam genggamannya. Senjata itu dijulurkannya keluar jendela, lalu berkali-kali dihunjamkannya ke tanah.
"Cinta, menangislah," kataku dengan suara risau mendesau.
Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami.
Lama sekali."Beta seng bisa manangis,"suaranya bergetar, rahangnya mengeras.


